Aduh,sukarnya bersangka baik

(Olahan kembali artikel simpanan saya ,diambil di internet beberapa tahun lalu)

Kawan lama saya bercerita sambil tertawa-tawa. Ia teringat masa mudanya, ketika itu dia masih menuntut di sekolah menengah di selatan semenajung. Malah waktu itu teman saya mempunyai masalah peribadi dengan temannya.

Seperti anak remaja yang lain, kawan saya itu suka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk aktif dalam pelbagai kegiatan . Di luar waktu sekolah, dia juga aktif dalam aktiviti kerohanian sekolah, menyertai kelab kembara dan beberapa kegiatan lain, termasuk kursus menghafal qur’an dan waktu untuk berkumpul dengan teman-teman akrabnya.

Kegiatan yang diikuti membuatnya bertemu dengan ramai orang yang pelbagai ragam dan watak. Cocok atau tidak cocok dengannya. Ia tidak boleh untuk memilih.

Ketika itu, semasa pulang dari sekolah kawan saya sedang berjalan bersama beberapa orang temannya. Ketika melewati tumpuk sampah di depan rumah berhampiran sekolahnya, kawan saya yang kala itu umurnya tidak lebih dari tiga belas tahun spontan menutup hidung sambil membuang muka, menghindari sumber busuk dari tumpukan sampah yang dilaluinya itu , seraya berkata, “Busuknya bau ni!”

Peristiwa itu berlalu begitu saja sebagai slice of life yang biasa ditemuinya setiap hari. Dia tidak pernah sedikit pun memikirkan peristiwa itu, seperti ia tidak memikirkan si pencopet yang meminta wang sambil mengugut , atau si penyeluk saku yang hampir setiap hari ditemuinya di dalam bas. Fikirannya sudah dipenuhi dengan urusan lain yang dianggapnya jauh lebih penting seperti mengulangkaji pelajaran , aktiviti memanjat gunung , dan lainnya.

Setelah meminum seteguk air dari gelas di tangannya, kawan saya meneruskan ceritanya. Beberapa hari kemudian ternyata ia baru menyadari bahwa salah seorang temannya menjaga jarak dengannya. Dia lebih terkejut lagi ketika mengetahui temannya itu sudah beberapa hari menjauhinya karena tersinggung.

Ternyata, dalam perjalanan pulang saat itu, tanpa disadarinya, dia bertembung dengan seorang teman lain yang sedang berjalan sendirian ke arah yang berlawanan. Dia tidak menyadari kehadiran temannya itu di arah berlawanan karena sedang asyik berbincang dengan kawan-kawannya yang lain.

Ketika bertembung secara tidak sengaja , salah seorang temannya yang menjaga jarak itu menyatakan bahawa ia merasa tidak dipedulikan, bahkan merasa terhina karena saat itu kawan saya tidak menyapa dan membuang muka, lengkap dengan aksi menutup hidung dan berkata .Busuknya bau ni!”

Kawan saya segera merungkaikan masalah. Dia menceritakan semua perkara sebenar yang terjadi. Sebenarnya dia tidak melihat kehadiran temannya itu di sampingnya, dan dia menutup hidung karena menghindari bau busuk sampah. Dia pun tidak lupa meminta maaf atas ketidaksengajaannya menyinggung perasaan temannya itu. Hasilnya? Temannya pun tersenyum kembali sambil ikut meminta maaf, dan mengatakan bahwa seharusnya ia tidak perlu sensitif , apabila ia mampu bersangka baik.

Cerita kawan saya di atas hanya satu dari beribu bahkan berjuta kesalahpahaman yang pernah terjadi di kehidupan sehari-hari. Hampir setiap waktu kita memerlukan orang lain, dan dari interaksi itulah seringkali timbul salah paham menjadi duri dalam daging dalam komunikasi.

Hampir setiap hari kita melakukan kesalahan. Baik yang disadari maupun tidak. Oleh karena itu kita dianjurkan untuk melakukan taubat setiap hari. Bukan sekadar bila melakukan kesalahan saja.

Kita tidak selalu menyadari apakah kata-kata yang terucap melukai perasaan seseorang atau tidak. Sikap kita membuat orang lain tersinggung atau tidak. Dan hal-hal lain yang kita lakukan selama berinteraksi dengan orang lain.

Seperti juga kita tidak mengetahui maksud seseorang ketika perkataannya atau tingkahnya menguris perasaan kita. Entah sedih, suka , malu, atau marah. Lawan komunikasi kita di segala aktiviti yang kita lakukan tidak pula memahami setiap tutur dan tindakan kita yang kita sengaja maupun yang tidak kita sadari terjadinya.

Karena setiap saat kita dapat menjadi orang yang melukai atau dilukai atau keduanya dalam waktu yang bersamaan setiap saat, maka kita amat perlu memelihara dan memupuk kemampuan untuk berbaik sangka, berlapang dada, berani mencegah prasangka buruk dengan berani bertanya,adakah kita telah menyinggung perasaan orang lain . Dan yang paling akhir adalah berani meminta maaf atau memaafkan bila kita memang salah atau ketika orang lain meminta maaf.

 

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s